Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Agustus 2017

TERUNTUK SAHABAT YANG BAIK

Teruntuk Sahabat yang baik
Karya: Ain
Hari berlalu, kamu semakin jauh saja. Jarak merentang tak terkira. Kesibukan mulai membunuh kata-kata, suara, dan rencana. Apa kabar janji-janji bersama dulu? Kebersamaan ternyata tidak seindah masa-masa remaja. Usia dan pekerjaan merebut hidup kita. Semua menjadi hal-hal yang harus diselesaikan. Lalu kita dipaksa mengabaikan.
Sudahkah kamu menemui dirimu sendiri? Ada banyak orang yang kehilangan diri mereka sendiri. Sebab terlalu sibuk bekerja sepanjang hari. Cukup aku yang jauh darimu. Jangan sampai kamu kehilangan dirimu sebab tidak bisa membagi waktu. Biarlah rindu-rindu yang menyiksa kita. Jangan asing dengan semua yang kamu punya.
Teman baikku, yang kini sibuk mengejar impian dan hidup yang lebih mapan. Jangan lupa, bahagia kadang datang dari hal-hal sederhana. Nanti kalau sudah punya waktu senggang, jangan lupa berkabar meski melalui pesan. Rindu kadang membuat kita ingin saling sapa, lalu abai sebab merasa asing di kepala. Jangan lama-lama begitu, jarak dan waktu yang membelenggu sudah terlalu menjauhkanmu dari diriku.

Pulanglah menemui dirimu yang tersisa dalam diriku. Temui rencana dan suara-suara keras yang kita miliki dulu. Bekerja sepenuh hati itu perlu, namun hidup tidak semata begitu. Jangan lupa, ada bagian-bagian di luar dari dirimu yang selalu menunggu. Bagian-bagian yang sabar memeluk rindu. Bagian dari dirimu yang masih kujaga dalam diriku.

Selasa, 15 Agustus 2017

UNTUK MU AYAH

Untukmu Ayah... yang kasih sayangnya lebih luas dari lautan itu yang jiwa raganya lebih kokoh dari bebatuan itu... yang tetesan keringatnya lebih dalam dari lautan itu yang hatinya lebih putih dari awan awan itu. Untukmu Ayah... Satu satunya lelaki yang kupuja Satu satunya yang kucinta Satu satunya yang ku sayang Satu satunya yang ku taati Setelah Allah swt.
Untuk mu Ayah.. Yang sepanjang usianya hanya untuk kebahagian anaknya Yang seluruh tenaganya untuk menguatkan tulang anaknya Untuk mu Ayah.. Yang dengan nasihatnya aku lalui hari Yang dengan kemarahannya aku takuti Yang Air matanya tak sanggup aku lihat.. Yang sentuhannya menjagaku, Yang pelukannya menghangatkanku... Yang senyumannya penyemangat asaku..
Untukmu Ayah... Aku meridukanmu... Anak gadismu, yang tak bisa jauh darimu Putri kecilmu yang hanya bisa tidur Ketika mendengar dongeng mu.. Untukmu Ayah... Raga kita terpisah dalam Citaku. Hatiku selalu ada engkau Ayah.. Doaku selalu ku sertai di hari harimu..
Ya Allah... Sayangilah Ayahku sebagaimana ia menyayangiku sewaktu kecil hingga kini, Lindungilah ia seperti ia melindungiku sewaktu kecil hingga kini, Jika kasih sayangnya sepanjang masa, hadirkan aku dalam sepanjang masanya menjadi kebanggan untuknya, menjadi penghapus duka saat ia berduka, menjadi obat saat sakitnya. Jika hanya anak shalihah adalah yang bisa nenyelamatkannya didunia dan diakhirat. Pilihlah aku sebagai anak shalihahnya. Ya Allah Ridho – Mu ada pada ridhonya  sampaikan salam kasih sayang ku untuk Ayah..
Ku titipkan Rindu buat Ayah pada – Mu Mohon Lindungi ia selalu ya Allah Aku sangaat mencintainya. Amin..

====NIA====

Sabtu, 12 Agustus 2017

BIARKAN AKU YANG PERGI


Biarkan Aku Yang Pergi
Karya Dinda Pelangi

Malam yang sejuk mengiringi kesepianku. Angin malam turut membelai lembut rambutku. Menemaniku yang tengah sendiri menatap indahnya bumi. Sebagai teman paling setia dikesendirianku dalam ketidakadilan ini.
“Oh Tuhan, kapan semuanya akan berubah?” tanyaku dalam pengharapan.
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dengan cukup pelan.
“pasti bi Imah.” Tebakku
“iya, sebentar!” sahutku sembari berjalan dari serambi kamar.
“Maaf non, waktunya makan malam. Yang lain sudah ngumpul dibawah.” Ucap Bi Imah saat pintu kamarku terbuka.
“ok bi Dera juga udah lapeer banget.” Candaku padanya.
Bi Imah adalah seseorang yang merawatku sejak lahir. Bagiku, ia sudah seperti Ibu kandungku. Dirumahku, hanya Bi Imah yang peduli dengan keadaanku. Disaat aku sakit, hanya ia yang selalu repot menyiapkan obat, hanya ia yang selalu tahu betapa sedihnya aku disaat nilai raportku jauh dari nilai kak Dara. Hanya ia yang tahu betapa aku ingin seperti kak Dara, saudara kembarku.
****
“wah ada ayam bakar nih. Heem maknyus” ucapku seraya menduduki kursi favoritku.
“dasar gak sopan…” sindir Ayah padaku.
“makanya, jangan nyerocos aja dong jadi cewek.” Timpal kakakku, Virgo.
“iya Dera, kamu duduk dulu baru ngomong, kan ada Papa sama Mama disini. Jadi sopan dikit Ra.” Tambah Kak Dara.
“iya Dera, betul tuh kata Dara. Contoh dia.” Tambah Ibu lagi.
“ok, aku pergi. Silahkan makan!!” ucapku dengan sinis.
Akupun bergegas naik menuju kamarku tanpa sedikitpun menyentuh makanan disana.
Padahal sebenarnya maagku kambuh dan rasanya sangat perih. Tapi lebih perih lagi disaat aku tak pernah mendapatkan kasih sayang dari semua orang yang aku sayangi.
Matahari menjelma masuk kedalam kamarku yang pemiliknya masih tertidur lelap. Hingga aku terbangun karena silaunya sinar yang menerpa mataku.
“humh, udah pagi to” ucapku pada diri sendiri,

Aku bergegas mandi dan memakai pakaian sekolahku. Dengan aksesoris biru yang lengkap. Pagi ini, aku tak ingin sarapan. Aku hanya mengunjungi Bi Imah yang ternyata sedang menyiapkan bekal untukku.
“makasih ya Bi, Dera sayang Bibi.” Ucapku dengan tulus padanya
“iya non, Bibi juga sayangg banget sama non Dera, semangat ya Non sekolahnya.”
Sahut bi Imah menyemangati.
Setibanya disekolah, aku segera menuju ruangan tempatku ulangan. Jadwal hari ini adalah matematika dan bahasa inggris. Pelajaran menghitung yang sangat menyebalkan untukku. Karena aku tak seperti kak Dara yang jago menghitung. Dugaanku tepat, soal kali ini susahnya minta ampun. Hingga kertas ulanganku hampir tak terisi. Namun kalau bahasa inggris, inilah kehebatanku. Semua soal dapat kukerjakan dengan mudah. Karena sejak kecil aku sudah sangat hebat berbahasa inggris. Seperti Om Frans dan Tante Siska yang semasa di Jakarta sangat menyayangiku jauh lebih besar dari orang tua kandungku. Namun kini mereka telah pindah ke Amerika dengan anaknya, Dimas.
****

Waktu seakan berjalan dengan sungguh cepat, kini saatnya pembagian hasil belajar siswa. Kebetulan, aku dan kak Dera berbeda kelas dan sekolah. Kalau aku masih berada dikelas satu SMA, sedangkan ia sudah berada dikelas dua. Semua terjadi karena aku pernah tak naik kelas sewaktu disekolah dasar. Kalau kak Dara sengaja Papa sekolahkah di sekolah terfavorit di Jakarta, sedangkan aku bersekolah di SMA yang didalamnya hanyalah siswa buangan dari sekolah lain yang tidak menerima kami. Karena nilaiku tak sehebat nilai kak Dara dan Kak Virgo. Mereka memiliki IQ yang jauh lebih tinggi daripada aku.
“Pa, ambilin raport Dera ya.” Pintaku
“Papa sudah janji sama Dara kalau Papa yang akan mengambilkan raportnya. Kalian kan beda sekolah.” Jawab Ayahku.
“Ma, ambilin raport Dera ya!” pintaku lagi pada Mama.
“Mama udah janji sama Virgo ngambilib raportnya, dia kan sudah kelas tiga jadi harus diwakilin.” Jawab Mama.
“oh gitu ya.” Balasku dengan kecewa.

Aku hanya bisa menangis sendirian didalam kamar. Tidak ada satu orangpun yang mau mengambilkan raportku. Jalan terakhir adalah Bi Imah. Dan tentu saja ia sangat mau mengambilkan raportku.
“Gimana bi hasilnya?” tanyaku dengan penasaran
“Non Dera juara 1 non.” Ucap bi Imah dengan semangat.
“hah? Beneran bi?” sahutku tak kalah semangat.
Ternyata usahaku tak sia-sia, akhirnya aku bisa menyamai prestasi kak Dara.
****

Setibanya dirumah, semua orang yang sedang tertawa ria melihat hasil belajar kak Dara dan kak Virgo menjadi terdiam disaat kedatanganku dan Bi Imah.
“gimana hasilnya Ra?, pasti jelek.” Ucap kak Virgo menyindirku.
“gak ko, aku juara 1.” Ucapku dengan semangat.
“ah, juara 1 disekolahmu pasti juara terakhir dikelas Dara.” Ledek Ayah padaku.

Aku kecewa, benar-benar kecewa karena semua prestasi yang kuraih tak penah dihargai sama sekali. Dengan kecewa aku berlari menuju kamarku, kuratapi semua ketidakadilan ini. Aku tidak keluar kamar selama dua haripun tak ada yang peduli.
Semua orang dirumah hanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tak terkecuali
Bi Imah yang hampir setiap jam membujukku untuk keluar. Maagku kambuh, rasanya teramat perih dari yang biasanya.
“oh Tuhan, kuatkan aku!” pintaku

Dihari ketiga aksi diamku dikamar, tiba-tiba rumahku terdengar sebuah suara yang sangat kukenal. Ternyata hari ini, keluarga Om Frans sudah tiba di Jakarta untuk berlibur bersama keluarga kami.
“Dimas? Aku merindukanmu.” Ucapku dengan tertunduk lesu dikamar.
Aku keluar kamar untuk menemuinya, namun ternyata ia sudah berubah dan tak peduli lagi padaku. Semuanya benar-benar berubah, dan kini janjinya ia ingkari untuk menemuiku. Penantianku sia-sia, semua orang telah membenciku dan menjauhiku. Aku sendirian dirumah, bi Imah pulang kekampung karena anaknya sakit. Sedangkan yang lain sedang makan malam dihotel. Dan aku? Tertinggal disini.
****

Aku hanya makan dan terus memasukkan roti berselai srikaya kemulutku. Sedangkan yang lain asyik berbincang-bincang dengan topic kak Dara dan Dimas. Yang aku tahu, mereka terus membanggakan dua orang yang berprestasi tersebut. Hingga Om Frans dan Tante Siska juga turut berubah padaku. Semua orang mengucilkanku disini.
Sesudah sarapan pagiku habis, aku segera pamit menuju taman belakang yang ternyata disana ada kak Dara dan seseorang yang sangat aku sayangi, kak Dimas.
Disana, aku sedang melihatnya memberikan setangkai mawar pada kak Dara. Ternyata mereka sudah jadian dan aku tahu, bahwa kak Dimas telah melupakanku.
****

Akhirnya, hari yang telah lama kunantikan tiba juga. Hari ini, pertandingan karateku akan berlangsung. Namun sayang, semua orang yang kusayang tak ada yang mau hadir disini. Semuanya memilih hadir dilomba kak Dara, olimoiade sains. Walau sedikit kecewa, akan kubuktikan bahwa aku adalah Dera yang hebat. Keinginanku terwujud, aku menang dan meraih juara satu dipertandingan karate nasional yang diadakan di Jakarta.
“kita panggil, juara nasional karate tahun ini. Alderaya Zivanna dari Jakarta.” Panggil pembawa acara.
Dengan diiringi tepuk tangan meriah, ku naiki podium kebesaranku, dan kurasakan aku sangat dihargai disini.
****

Setibanya dirumah, kuletakkan foto keberhasilanku diruang tamu, namun disaat kedatangan kak Dara dan yang lainnya, kulihat kemurungan disana. Dan setelah melihat foto keberhasilanku, kak Dara malah menangis dan berlari menuju kamarnya.
“kamu sengaja meledek Dara?” Tanya Papa dengan sinis.
“gak pa! maksud Papa apa sih?” tanyaku tak mengerti.
“Dara kalah sedangkan kamu menyombongkan diri dengan memajang fotomu diruang ini. kamu tahu kan bahwa diruang ini hanya foto-foto keberhasilan Dara yang boleh menempatinya.” Jawab Papa yang membuatku sangat kecewa.
“Lepas Fotomu!” ucap Mama dengan agak ketus padaku.

Kulepas foto yang sangat aku harapkan menjadi penghubung agar keluargaku menyanjungku. Sebuah harapan yang sejak dulu selalu ku inginkan. Karena aku selalu iri disetiap kak Dara dipuji dan disanjung oleh papa dan mama, serta semua tamu yang pernah berkunjung kerumahku. Sekarang pertanyaan terbesarku adalah,
“apakah aku anak kandungmu Ma? Pa?”
Pertanyaan yang tak pernah terjawab oleh lisan, namun terjawab oleh perbuatan mereka padaku. Seorang anak yang selalu tersingkirkan oleh ketidakadilan.
****

Hari demi hari terus berganti, dan semenjak itu pula kak Dara menjadi seseorang yang terpuruk. Aku bisa merasakan perasaannya yang tertekan karena ia kalah diolimpiade.
Yang kutahu, saudara kembarku ini terlihat lemah dari yang biasanya.
“Udahlah kak, gak ada gunanya ditangisin terus.” Ucapku menyemangati.
“udahlah Ra, kamu senang kan ngeliat aku kaya gini? Kamu senang kan ngeliat aku kalah?” jawabnya dengan menangis.
“gak ka, gak. Aku gak pernah ada niatan kaya gitu.” Sahutku.
“udahlah, pergi kamu dari kamarku, pergi…” ucapnya terpotong karena akhirnya ia terjatuh tepat didepanku.
“Pa, Ma, tolong kak Dara. Kak Dara pingsan Pa!” beritahuku
“apa? Kamu apain sih dia?” Tanya Papa sinis padaku.
“aku, aku gak ada ngapa-ngapain dia pa.” sahutku dengan menyembunyikan kesakitanku.
“pasti penyakitnya kambuh lagi pa, ayo cepat kita bawa kerumah sakit.” Ucapku pada Papa.
****

Hari ini tepat seminggu sebelum ulang tahunku dengan kak Dara. Aku takut kehilangannya, saudara kembarku yang sangat aku sayangi. Dokter bilang bahwa ginjalnya sudah benar-benar rusak. Yang aku tahu, kini ginjalnya hanya satu setelah setahun yang lalu satu ginjalnya sudah diangkat. Sedangkan aku masih mempunyai dua ginjal.
“hanya saudara kembarnya yang ginjalnya cocok dengan Dara. Jadi usahakan dengan secepat mungkin diadakan pencangkokan ginjal Pak” beritahu dokter pada Papa.

Setelah itu, aku menjadi sasaran semua orang yang menyayangi kak Dara. Semuanya memintaku untuk mendonorkan satu ginjalku padanya. Niatku memang sudah bulat bahwa aku akan mendonorkan kedua ginjalku pada kak Dara, tapi aku tak ingin ada yang tahu semuanya. Karena aku tidak mau mereka akan menyayangiku karena bersimpati denganku yang telah memberikan satu ginjal pada saudaraku. Aku hanya ingin kasih sayang tulus dari mereka, entahlah bagaimana caranya agar aku mendapatkannya.
“ah sudahlah Dera, kamu memang saudara yang kejam. Hanya menyumbangkan satu ginjal saja tidak mau. Untunglah ada seseorang yang baik hati yang mau menyumbangkannya pada Dara.” Ucap Papa
“aku kecewa sama kamu Dera, tega ya kamu sama kakak kamu sendiri.” Ucap Dimas dengan kecewa padaku.
“siapa yang mendonorkan ginjalnya Pa?” Tanya kak Virgo.
“entahlah, pendonor itu tidak mau diberitahu namanya. Bahkan ia memberikan dua ginjalnya dengan gratis pada Dara. Dia benar-benar berhati malaikat.” Jawab papa.
“andaikan kalian tahu kalau itu aku? Apakah aku akan diberi penghargaan dari Papa?” gumamku dalam hati.
****

Beberapa jam sebelum operasi pencangkokan dilakukan, aku menulis sebuah surat untuk semua orang yang aku sayangi. Entahlah, aku merasa akan meninggalkan mereka semua. Rasanya, aku sudah sangat lelah dengan hidupku sendiri. Sesudah selesai ku tulis, surat itu kutitipkan pada Bi Imah. Akupun berangkat menuju rumah sakit untuk segera menjalani operasi.

@ ruang operasi
Ruang ini tersasa begitu menakutkan. Semua benda yang kulihat hanyalah jarum suntik dan gunting. Alat-alat yang terlihat menakutkan bagiku. Aku dibawa lebih dulu keruang ini, agar tidak ada yang tahu siapa aku sebenarnya. Posisiku dan kak Dara dipisahkan oleh dinding pembatas. Hingga akhirnya aku dibius, dan kurasakan semuanya gelap.
****

Seminggu kemudian. . . .
“akhirnya kamu sembuh juga sayang. Mama khawatir banget sama kamu sejak kamu dioperasi. Untung ada pendonor itu.” Ucap Mamanya dengan penuh kasih sayang.
“Dan Happy Brithday Dara…” ucap semua orang serentak
“Makasih ya semuanya. Aku senanggg banget. Oya, Dera mana ya Ma? Gak tau kenapa Dara kepikiran dia terus. Hari ini kan ulang tahun kami” Sahut Dara.
“iya ya? Mana dia Bi?” Tanya Ibunya pada Bi Imah
“Sebentar nyonya.” Jawab Bi Imah dengan berlari menuju kamar Dara.

Dan beberapa menit kemudian sudah tiba dengan membawa sepucuk surat.
“ini surat dari Non Dera sebelum pergi.” Beritahu Bi Imah.
Walau agak heran, Ibunya pun membacanya dengan agak keras.
Untuk semua orang yang sangaaat Dera saying.
Mungkin saat kalian baca surat ini Dera gak ada lagi disini. Dera udah pergi ketempat yang saangaat jaauh. Oya, gimana kabar kak Dara? Gak sakit lagi kan? Semoga ginjalku dapat membantumu untuk meraih semua mimpi-mimpimu yang belum terwujud.

Teruntuk PAPA yang SANGAT KURINDUKAN
Gimana Pa? rumah kita udah tenang belum? Gak ada yang gak sopan lagi kan? Oh pasti gak ada dong ya? Ya iyalah, Dera si pembuat onar kan udah gak ada.

Teruntuk MAMA yang SANGAT-SANGAT KU RINDUKAN
Ma, Dera pasti akan sangat rindu dengan teddy bear pemberian Mama lima tahun yang lalu. Ma, Dera kangeeen banget pelukan Mama. Dera selalu iri saat Mama hanya mencium kak Dara disaat ia tidur. Dera iri melihat Mama yang selalu menyemangati kak Dara disaat ia sedang sedih. Dera iri dengan semua perhatian yang Mama berikan pada kak Virgo dan kak Dara. Dera sangaat iri.

Teruntuk KAK VIRGO dan saudara kembarku, DARA
Gimana kak, gak ada lagi kan yang ganggu kalian belajar? Gak ada lagi kan yang nyetel music keras-keras dikamar? Pasti rumah kita tenang ya, pastinya gak akan ada lagi yang akan membuat kalian malu karena punya saudara yang bodoh bukan? Oh, pastinya. Oya, SELAMAT ULANG TAHUN YA KAK, SELAMAT MENJALANI UMURMU YANG KE-17 TAHUN. Yang mungkin takkan pernah aku rasakan.

Kalian semua harus tau, betapa AKU SANGAT MENYAYANGI KALIAN. Mungkin dengan kepergianku, smeuanya akan tenang dan rumah kita menjadi tentram. Dera harap, gak aka ada lagi yang terkucilkan seperti Dera. Yang selalu menangis setiap malam. Yang selalu merindukan hangatnya kekeluargaan. Mungkin dengan kepergian ini, aku akan tahu bagaimana kalian akan mengenangku, seperti akuyang selalu mengenang kalian setiap malam dengan tangisan. . . Semoga KALIAN SEMUA BAHAGIA TANPA DERA, AAMIIN.
Salam rindu penuh tangis bahagia

Alderaya Zivanna
Semua yang mendengar menangis. Mereka bertanya-tanya pada Bi Imah dimana Dera. Namun tiba-tiba telepon rumah berbunyi..
“iya, saya Hermawan, ada apa ya?” Tanya Papanya dengan penasaran.

Dan sesaat kemudian Papanya menangis dan segera mengajak anggota keluarganya ke Rumah sakit. Dan mereka terlambat, Dera telah pergi untuk selama-lamanya. Dan menginggalkan berjuta penyesalan disetiap tangis yang jatuh. Kini, ia telah tenang dan jauh dari ketidakadilan selama hidupnya. Walau air mata tengah menangisinya yang telah pergi untuk selama-lamanya. . .
The End


DEFINISI IBU

Menurut mu siapa yang disebut ibu?
Bisakah aku berbagi,
Bercerita sedikit tentang siapa itu ibu bagiku.
Ibu bukan hanya ia yang melahirkan ku, bukan hanya ia yang mempertaruhkan hidup dan mati nya untuk ku, dan bukan hanya ia yang menanggung beban berat untuk membesarkan ku.
Tapi tentang ia yang memahami isi hatiku saat pandangan nya terhenti dalam tatapan senduku, tentang ia yang menghabiskan waktu untuk memperbaiki salahku demi perubahanku agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dimasa akan datang, dan tentang ia yang menghabiskan seperempat malam nya untuk merisaukan seperti apa masa depan ku kelak. Ibu selalu saja menyentuh hati saat suara lirihnya ia sembunyikan dibalik gema tawanya.

Seperti kata orang bijak 'kau mampu melihat seisi dunia dengan kecanggihan teknologi karena perubahan zaman, namun kau takkan mampu mendefinisikan kasih sayang seorang ibu dalam bahasa apapun dari zaman ke zaman.

Minggu, 06 Agustus 2017

AKU RINDU KAMU


Aku rindu kamu. Iya kamu yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri, aku rindu semua tentang kamu.
Terimakasih sayangku, terimakasih yang sudah menjadi kawan baikku selama bertahun-tahun.

Entah apalagi yang harus ku ungkapkan...
Aku bersyukur kepada tuhan karena sudah mempertemukan kita ...

Kamu ingat gak??? pernah kamu ngambek hanya karna aku gak sholat ????? Aku buka hijab?????
Tahukah kamu, aku bahagia memiliki kamu ...
Kau selalu mengajakku ke jalan Allah..
Kau tuntun aku dengan kasih sayang ..

Siti Anggriana,
Ya,
Dia adlah teman, sahabat, adik, kakak, saudara...

Siti Anggriana
Dia adalah gadis yang paling bawel kalo melihat sahabatnya gak sholat dan ngaji.....

Siti Anggriana..
Terimakasih banyak atas kepedulian kamu kepada aku ...

Dan sampai detik inipun aku selalu merindukan kamu ...
Aku selalu ingat kata-katamu
Kamu pernah bilang “Nia kamu jangan bawel”.  Kamu gak boleh terlalu percaya sama orang yang baru kau kenal.  Jangan sampai kau dimanfaatin karena uangmu doang ...
Carilah kawan, teman, sahabat yang  ngajak kamu ke jalan Allah, bukan yang  datang bila ada mau dan pergi jika kau ada kesusahan....
Be smart !!
Carilah Kawan yang bakalan ngajak kau ke surga bareng-bareng

Aku diam tanpa kata apapun ..
Aku mulai merangkul  apa yang kau katakan padaku ..

Dan yang mmbuat aku semakin merindu adlh ketika hp aku slalu berbunyi tak henti d saat udah waktunya sholat ...
Kau selalu mengingatkan aku untuk menghadap sang pencipta
Semoga persaudaraan ini kekal abadi selamanya

Miss  You "SITI ANGGRIANA"

Rabu, 02 Agustus 2017

TIDURLAH ADIKKU


Tidurlah adikku
Aku percaya ketika sang surya menyapa mu esok, saat itu juga kau tahu betapa besarnya rinduku pada mu. Jika memang kita diikat oleh selimut persahabatan, niscaya kehangatan rindu ini  kan mengalir bersama jiwa yang satu. Tidurlah adikku, jika kau mau maka berbaringlah dipundak ku, lepaskan semua hasrat manja mu. Ku ingin mengusap dan membelai rambut mu hingga kau tertidur lelap, agar kau bisa lupakan semua tentang masa kelam itu. Tidurlah adikku. Ketika cahaya menjemput, pandangilah dengan senyuman karena aku berada dibalik cahaya itu. Ku tak pandai membuatmu bahagia walau hanya sesaat, tapi inilah cara ku. Cara ku membuat engkau bahagia. Semoga besok kau tersenyum melihat pesan ini. Tidurlah adikku, jangan khawatir aku akan bersama mu, walau Tuhan berkehendak lain. Jujur, aku takut kehilangan mu, dan yakin ku, kau akan pergi. Pergi bersama kekasih mu, bahkan akan jauh dari angan ku. Mahligai itu menanti mu adikku. Kau tak akan mungkin hidup sendiri, kau akan punya teman, teman di mana kalian selalu bersama. Makan, tidur, jalan bahkan seranjang. Di situlah aku sadar bahwa kau adalah milik orang. Mungkin aku hanya bisa menyapa mu dari kejauhan. Tidurlah adikku. Aku ingin sebelum kau pergi lebih jauh, berbaring dipundak ku. Katakanlah bahwa kau menyayangi ku, katakan "Kaka aku menyayangi mu, dan aku akan selalu memanjakan diri ku pada mu". Di kaki gunung Gamalama ku tabur rindu hingga terbang menelusuri lereng-lereng Sibela. Semoga angin sipoi membawa salam ku pada mu. Tidurlah adikku, tidur yang manis ya.

Ternate, 3 Agustus 2017 | Asrul Lamunu

Selasa, 01 Agustus 2017

AKU INGIN SEMBUH

Aku Ingin Sembuh,,,!!!
Belum terlalu lama aku mengenalnya, ketika itu aku dan dia mulai akrab. Sulit untuk dibayangkan, bahkan hampir tidak bermimpi mengenalnya. Perlahan waktu mempereratkan kita. Dia bagai adik, teman, bahkan sahabat. Kita berbagi cerita, seringkali dia suka manja. Anak ini memang nakal, yah, nakal bergadang. Kami terkadang sering berantem, tapi tidak lama-lama. Antara ragu dan rasa sayang ku padanya membuat aku ingin mengenalnya. Dia menyebutku kakak, ingin menjadi adik dari adik-adik ku yang lain. Ku ingin menerawang persahabat ini, ku ingin mengenal lebih dekat. Mungkin sedekat kulit dan nadi, bahkan kami sangat dekat. Hobinya makan, jalan-jalan, dan bergadang sampai larut malam. Ku berfikir, nampaknya dia memiliki 'kelainan', ternyata dugaan itu benar. Dibalik wajah polosnya, senyum simpulnya, dan bibir manis itu, tersembunyi sesuatu. Dia sedang tidak baik-baik, dia 'sakit'. Ketika aku tanyakan "Adik apa kau sakit", katanya, "tidak kak aku baik-baik saja". Aku tahu dia sakit,!
Ku rayu dia, dan akhirnya dia mau terbuka. Oh, adik ku semoga kau cepat sembuh. Aku yakin banyak orang mendoakan mu wahai gadis berparas cantik. Kau akan sembuh, kau akan sehat, dan kau akan tersenyum seperti perempuan-perempuan yang lain. Jangan putus asa, tetaplah menjadi orang yang kuat. Yakinlah Tuhan melihat mu, bahkan mungkin Tuhan sedang bersama mu. Ujian itu akan pergi, bahkan pergi jauh sekali. Doa dan doa adalah perisai mu, sabar adalah penyejuk jiwa, aku dan kita semua menulis doa untuk mu, amin.

Asrul Lamunu | Ternate, 31 Juli 2017

Senin, 31 Juli 2017

CINTA INI BAGAIKAN PENUMPANG DALAM KERETA API


Cinta ini bagaikan penumpang dalam kereta api

Hidup ini seperti sebuah perjalanan kereta api. Lengkap dengan stasiun-stasiun yang dilalui, dengan perubahan-perubahan rute atau tempat tujuan.

Begitu pula orang lain akan naik dalam kereta api kita. Bisa saja mereka akan menjadi penumpang yang berarti bagi hidup kita atau hanya sebatas perantara.
Karena ada ribuan orang lainnya di dalam kereta dengan tujuan yang sama yang tidak kau kenal. Kau tidak tertarik untuk mengenal mereka lebih jauh. Kau juga tidak akan tau dengan siapa kau akan bertemu.

Suatu saat kau menemukan seseorang, kau akan mencoba untuk memberanikan diri menyapanya. Kau mencoba berbasa-basi untuk mengobrol dan bertukar kontak. Kau akan mencari tahu lebih tentang dirinya.

Serta lama kelamaan, kau terbiasa menaiki kereta itu bersama dengannya. Kau akan membuat janji dengannya, pada jam berapakah dan gerbong manakah kalian akan menaiki kereta. Kemudian kau akan selalu menantikan momen itu terjadi.

Ketika kereta mendekati tujuan, kitapun bergegas menyiapkan apa yang perlu diperhatikan jangan sampai ada yang ketinggalan. Saat tiba di stasiun kemudian satu demi satu penumpang akan turun dan meninggalkan kekosongan yang begitu dalam bagi kita. Bahkan ada juga penumpang yang harus turun begitu tiba-tiba, tanpa kita tahu.

Di saat anda menyadarinya, ternyata kursi mereka telah kosong, begitu pula dalam perjalanan kita karena di antara kita memilik tujuan yang berbeda, kau takkan pernah menemuinya lagi di kereta itu. Ia akan menaiki kereta dengan tujuan yang berbeda denganmu. Tidak ada momen kebersamaan dalam mencapai tujuan itu lagi.

Peron itu kembali hampa tanpanya, kereta itu kembali sunyi tanpanya. Tidak ada lagi penyemangat dirimu untuk tetap fokus mencapai tujuanmu. Tidak akan ada orang yang sama seperti dirinya lagi.

Layaknya kereta, kehidupan akan terus berjalan maju. ada atau tiada dirinya. Ia akan terus berjalan mengantarkan penumpang pada tujuannya. Layaknya kereta, kau tidak bisa memaksa waktu untuk berjalan mundur.

Dalam suatu perjalan hidup pasti penuh dengan sukacita, dukacita, imajinasi, harapan, dan juga diwarani dengan ucapan selamat tinggal dan perpisahan.

Untuk itu apakah kau akan mengganti tujuan keretamu untuk menyamai dirinya? Ataukah kau tetap pada tujuanmu yang sama sambil mencari orang lain untuk menggantikan dirinya? Keputusan itu kuserahkan pada dirimu.

====NIA====

Minggu, 30 Juli 2017

KAU DAN ALASAN-ALASAN BODOHMU


Kau dan Alasan-Alasan Bodohmu

Kalau pada akhirnya sia-sia, aku juga tak marah seperti ini jika dari awal kau sudah mengatakan maksudmu yang sebenarnya.

Aku mengerti kau tak enak denganku. Mencari banyak alasan bodoh untuk menyingkirkan aku yang dari sudah lama selalu ada untukmu. Segala cara kau cari. Dan yang paling membuatku kecewa adalah caramu membawa orang yang baru saja kau kenal masuk di antara kita berdua, lalu dengan sepihak mengatakan bahwa dia adalah yang selama ini kau idam-idamkan.

Yang dari dulu menyembuhkan luka-lukamu itu aku. Dia tidak pernah tau.

Yang dari dulu menemanimu ketika kau terjatuh itu aku. Dia tidak pernah tau.

Yang dari dulu mendengarkan isak tangismu itu aku. Dia tidak pernah tau.

Yang dari dulu memaklumi tingkah bodohmu itu aku. Dia tidak pernah tau.

Yang dari dulu selalu meluangkan waktu agar kau tak kesepian itu aku. Dia tidak pernah tau.

Yang dari dulu dengan sabar menunggumu untuk mampu pulih dari trauma lalu mau membuka hati lagi itu aku. Dia tidak pernah tau.

Dan ketika hatimu sudah mampu menerima orang baru, anehnya yang kau pilih itu dia, bukan aku. Padahal aku berani bersumpah, dia itu bahkan tidak pernah tau siapa dirimu ketika saat itu aku sudah sangat mengenal luar dan dalammu, menyembuhkan segala pesakitanmu, bahkan dengan cara mengorbankan seluruh waktu-waktuku.

Keparat!

Lalu sekarang kau masih berulang kali bertanya mengapa hingga saat ini aku masih belum bisa memaafkanmu?

Haha.....

semoga ia mencapakkanmu.”


===== AMHS =====